SINARALAMPOS.Com/LAMONGAN- Warung Lamongan yang menjadi program UMKM pemkab Lamongan, kini mengalami mati suri. Seperti diantara hidup enggan mati tak mau. Namun realitasnya banyak yang tutup, bahkan mendekati gulung tikar. (03/04/25)
Dana yang digelontorkan milyaran rupiah menjadi musproh begitu saja. Hal ini sangat disayangkan oleh Yak Widhi selaku sebagai pengamat kebijakan daerah dan tokoh muda Lamongan.
Pemerintah seharusnya mempertimbangkan banyak hal terkait program Warung Lamongan. Bukan hanya maunya nanam, namun lupa menyiram, memupuk dan melakukan penyemprotan jika banyak hama yang menyerang tanamannya.
Pemkab Lamongan seharusnya juga melakukan pengawasan dan pembinaan kepada desa yang sudah mendapat program tersebut. Termasuk membuat regulasi yang memihak pengusaha kecil menengah. Agar jalan pertumbuhan ekonomi yang berbasis kerakyatan di Lamongan bisa tumbuh dengan baik dan subur. Bukan malah membuka selebar lebarnya para pengusaha besar menguasai ekonomi masyarakat Lamongan.
Peran Legeslatif selaku wakil rakyat juga harus melakukan perannya. Memonitoring, bahkan jika perlu memanggil pihak-pihak terkait untuk dimintai keterangan. Kenapa Warla Warla yang sudah dibuat banyak yang tidak operasi dan mengalami mati suri. Ungkapnya.
Hal yang sama juga disampaikan Zainuri selaku sebagai warga masyarakat Lamongan. Zainuri mengatakan Dana yang digelontorkan dalam pembuatan Warla ini bila perlu harus diaudit. Apakah benar pembelanjaan yang dilakukan berdasarkan realita yang ada dilapangan. Jangan sampai uang pajak rakyat tersebut menjadi sia-sia dan merugikan masyarakat Lamongan.
Semoga niat baik dalam usaha peningkatan ekonomi kerakyatan di Lamongan ini tidak disalah gunakan. Keberadaanya perlu di kelola oleh tenaga profesional dan yang bersedia bertanggung jawab. Jangan sampai unsur yang cenderung nepotisme ini justru merugikan banyak pihak.
(Red)












